marilah kita simak Khotbah Sang Buddha, yang menerangkan segala gamblang
praktik “fang sen” (pelepasan dan
pembebasan kehidupan) adalah lebih baik daripada perampasan dan perusakan
kehidupan makhluk lain. Lebih tinggi dari itu, adalah pembebasan dari diri bagi
diri kita sendiri, melepas kemelekatan diri kita sendiri.
…
DEMIKIANLAH
YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavà sedang melakukan perjalanan melewati
Magadha bersama lima ratus bhikkhu, dan Beliau tiba di sebuah desa Brahmana
bernama Khànumata. Dan di sana Beliau menetap di taman Ambalaññhikà. Pada saat
itu, Brahmana Kåñadanta sedang menetap di Khànumata, tempat yang ramai, banyak
rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Seniya
Bimbisàra dari Magadha sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan
kerajaan.
Dan
Kåñadanta merencanakan upacara pengorbanan besar: tujuh ratus ekor sapi, tujuh
ratus ekor kerbau, tujuh ratus ekor anak sapi, tujuh ratus ekor kambing jantan,
dan tujuh ratus ekor domba yang semuanya diikat di tiang pengorbanan.
Dan
para Brahmana dan perumah tangga Khànumata mendengar berita: ‘Petapa Gotama …
sedang menetap di Ambalaññhikà. Dan sehubungan dengan Gotama, Bhagavà Yang
Terberkahi, telah beredar berita: “Yang Terberkahi adalah seorang Arahat,
Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan
perilaku, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam,
Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa
dan manusia, seorang Buddha, Bhagavà Yang Terberkahi.”
Beliau
menyatakan kepada dunia ini dengan para dewa, màra dan Brahmà, para petapa dan
Brahmana bersama dengan para raja dan umat manusia, setelah mengetahui dengan
pengetahuan-Nya sendiri. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di
pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan Beliau
memperlihatkan kehidupan suci yang sempurna, murni sepenuhnya. Dan sesungguhnya
adalah baik sekali menemui Arahat demikian.’ Dan mendengar berita itu, para
Brahmana dan perumah tangga, berduyun-duyun meninggalkan Khànumata, berjumlah
sangat besar, pergi menuju Ambalaññhikà.
Kebetulan
saat itu, Kåñadanta baru saja naik ke teras rumahnya untuk istirahat siang.
Melihat para Brahmana dan perumah tangga berjalan menuju Ambalaññhikà, ia
menanyakan alasannya kepada pelayannya. Si pelayan menjawab: ‘Tuan, ini karena
Petapa Gotama, sehubungan dengan berita baik yang beredar: “Sang Bhagavà Yang
Terberkahi adalah seorang Arahat, … seorang Buddha, Sang Bhagavà Yang
Terberkahi”. Itulah sebabnya, mereka pergi menemui-Nya.’
Kemudian
Kåñadanta berpikir: ‘Aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama memahami tentang
bagaimana menyelenggarakan dengan baik upacara pengorbanan tiga tingkat dengan
enam belas persyaratannya. Sekarang aku tidak memahami seluruhnya, namun aku
ingin melakukan upacara pengorbanan besar. Bagaimana jika aku menemui Petapa
Gotama dan bertanya kepada-Nya mengenai persoalan ini.’ Maka ia mengutus
pelayannya untuk menemui para Brahmana dan perumah tangga Khànumata dan memohon
agar mereka menunggunya.
Pada
saat itu, beberapa ratus Brahmana sedang berada di Khànumata bermaksud
mengambil bagian dalam upacara pengorbanan Kåñadanta. Mendengar niatnya untuk
mengunjungi Petapa Gotama, mereka datang dan bertanya apakah hal itu benar.
‘Demikianlah, Tuan-tuan, aku akan mengunjungi Petapa Gotama.’
‘Tuan,
jangan mengunjungi Petapa Gotama … Oleh karena itu, adalah tidak pantas bagi
Yang Mulia Kåñadanta untuk mengunjungi Petapa Gotama, melainkan sebaliknya,
Petapa Gotama yang seharusnya mengunjungimu.’
Kemudian
Kåñadanta berkata kepada para Brahmana: ‘Sekarang dengarkan, Tuan-tuan, mengapa
kita pantas mengunjungi Yang Mulia Gotama, dan mengapa Beliau tidak pantas
mengunjungi kita … Petapa Gotama telah
tiba di Khànumata dan sedang menetap di Ambalaññhikà. Dan petapa atau Brahmana
mana pun yang datang ke wilayah kita adalah tamu kita … Beliau melampaui segala
pujian.’
Mendengar
hal ini, para Brahmana berkata: ‘Tuan, karena engkau begitu memuji Petapa
Gotama, maka bahkan jika Beliau berada seratus yojana jauhnya dari sini, adalah
pantas bagi mereka yang berkeyakinan untuk pergi dengan membawa tas bahu untuk
mengunjungi Beliau, marilah kita semua pergi mengunjungi Petapa Gotama.’ Dan
demikianlah Kåñadanta pergi bersama sejumlah besar Brahmana menuju
Ambalaññhika. Ia mendekati Sang Bhagavà, saling bertukar sapa dengan Beliau,
dan duduk di satu sisi. Beberapa Brahmana dan perumah tangga Khànumata bersujud
kepada Sang Bhagavà, beberapa memberi hormat dengan merangkapkan kedua
tangannya, beberapa menyebutkan nama dan suku mereka, dan beberapa duduk di
satu sisi dan berdiam diri.
Duduk
di satu sisi, Kåñadanta berkata kepada Sang Bhagavà: ‘Yang Mulia Gotama, aku
telah mendengar bahwa engkau memahami bagaimana menyelenggarakan dengan baik
upacara pengorbanan tiga tingkat dengan enam belas persyaratannya. Sekarang aku
tidak memahami seluruhnya, namun aku ingin melakukan upacara pengorbanan besar.
Baik sekali jika Petapa Gotama sudi menjelaskannya kepadaku.’ ‘Dengarkanlah,
Brahmana, perhatikanlah dengan saksama dan Aku akan menjelaskan.’ ‘Ya, Yang
Mulia,’ Kåñadanta berkata, dan Sang Bhagavà berkata:
‘Brahmana,
pada suatu masa, ada seorang raja yang bernama Mahàvijita. Ia kaya, memiliki
banyak harta kekayaan, dengan emas dan perak yang berlimpah, harta benda dan
barang-barang kebutuhan, dan uang, dengan gudang harta dan lumbung yang penuh.
Dan ketika Raja Mahàvijita sedang bersenang-senang sendirian, ia berpikir: “Aku
memiliki sangat banyak kekayaan, aku memiliki tanah yang sangat luas yang
kutaklukkan. Seandainya sekarang aku menyelenggarakan upacara pengorbanan
besar, apakah itu akan memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk waktu yang
lama?” dan ia memanggil Brahmana-kerajaan, dan menceritakan pemikirannya. “Aku
ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Instruksikan aku, Yang Mulia,
bagaimana langkahnya demi manfaat dan kebahagiaan bagiku untuk waktu yang
lama.”’
‘Si
Brahmana-kerajaan menjawab: “Negeri Baginda diserang oleh para pencuri,
dirusak, desa-desa dan kota-kota sedang dihancurkan, perbatasan dikuasai oleh
perampok. Jika Baginda mengutip pajak atas wilayah itu, itu adalah suatu
kesalahan. Jika Baginda berpikir: ‘Aku akan melenyapkan gangguan para perampok
ini dengan mengeksekusi dan hukuman penjara, atau dengan menyita, mengancam,
dan mengusir’, gangguan ini tidak akan berakhir. Mereka yang selamat kelak akan
mengganggu negeri Baginda. Namun dengan rencana ini, engkau dapat secara total
melenyapkan gangguan ini. Kepada mereka yang hidup di dalam kerajaan ini, yang
bermata pencaharian bertani dan beternak sapi, Baginda akan membagikan benih
dan makanan ternak; kepada mereka yang berdagang, akan diberikan modal; yang
bekerja melayani pemerintahan akan menerima upah yang sesuai. Maka orang-orang
itu, karena tekun pada pekerjaan mereka, tidak akan mengganggu kerajaan ini.
Penghasilan Baginda akan bertambah, negeri ini menjadi tenang dan tidak
diserang oleh para pencuri, dan masyarakat dengan hati yang gembira, akan
bermain dengan anak-anak mereka, dan akan menetap di dalam rumah yang
terbuka.”’
‘Dan
dengan mengatakan: “Jadilah demikian!” raja menerima nasihat si
Brahmana-kerajaan: ia memberikan benih dan makanan ternak, memberikan modal
kepada yang berdagang … upah yang sesuai … dan masyarakat dengan hati gembira …
menetap di dalam rumah yang terbuka.’
‘Kemudian
Raja Mahàvijita memanggil si Brahmana dan berkata: “Aku telah melenyapkan
gangguan para perampok; menuruti rencanamu, pendapatanku bertambah, negeri ini
tenang dan tidak diserang oleh para pencuri, dan masyarakat dengan hati yang
gembira bermain dengan anak-anak mereka dan menetap di dalam rumah yang
terbuka. Sekarang aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar.
Instruksikan aku bagaimana cara menyelenggarakannya agar memberikan manfaat dan
kebahagiaan kepadaku untuk waktu yang lama.” “Untuk hal ini, Baginda, engkau
harus memanggil para Khattiya dari kota-kota dan desa-desa, para penasihatmu,
para Brahmana yang paling berpengaruh, dan para perumah tangga kaya di negerimu
ini, dan katakan pada mereka: ‘Aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan
besar. Bantu aku, Tuan-tuan, agar ini memberikan manfaat dan kebahagiaan
kepadaku untuk waktu yang lama.’”’
‘Raja
menyetujui, dan melakukan instruksi tersebut. “Baginda, pengorbanan dapat
dimulai, sekarang adalah waktunya. Empat kelompok penerima ini akan menjadi
pelengkap dalam pengorbanan ini.’
‘“Raja
Mahàvijita memiliki delapan hal. Ia terlahir mulia dari kedua belah pihak, …,
kelahiran yang tanpa cela. Ia tampan … tidak ada bagian yang berpenampilan
rendah. Ia kuat, memiliki empat kesatuan bala tentara yang setia, dapat
diandalkan, meningkatkan reputasinya di antara musuh-musuhnya. Ia adalah
seorang pemberi dan tuan rumah yang bertanggung jawab, tidak menutup pintu
terhadap para petapa, Brahmana dan pengembara, para pengemis dan mereka yang
membutuhkan – sebuah mata air kebajikan. Ia sangat terpelajar dalam hal apa
yang harus dipelajari. Ia memahami makna dari apa pun yang dikatakan, dengan
mengatakan: ‘Ini adalah apa yang dimaksudkan.’ Ia terpelajar, sempurna,
bijaksana, kompeten untuk menikmati manfaat-manfaat di masa lampau, masa depan,
dan masa sekarang.165 Raja Mahàvijita memiliki delapan hal ini. Ini merupakan
perlengkapan untuk upacara pengorbanan.’
‘“Brahmana
kerajaan memiliki empat hal. Ia terlahir mulia …. Ia terpelajar, ahli dalam
mantra-mantra …. Ia berbudi, moralitasnya meningkat, memiliki moralitas yang
meningkat. Ia terpelajar, sempurna dan bijaksana, dan merupakan yang pertama
atau ke dua dalam memegang sendok pengorbanan. Ia memiliki empat hal ini. Ini
merupakan perlengkapan untuk upacara pengorbanan.’
‘Kemudian,
sebelum pengorbanan, si Brahmana mengajarkan tiga syarat kepada Sang Raja.
“Mungkin Baginda merasa menyesal akan upacara pengorbanan ini: ‘Aku akan
kehilangan banyak kekayaan’, atau selama upacara: ‘Aku sedang kehilangan banyak
kekayaan’, atau setelah upacara: ‘aku telah kehilangan banyak kekayaan.’ Jika
demikian, maka Baginda tidak boleh merasa menyesal.”’
‘Kemudian,
sebelum pengorbanan, si Brahmana melenyapkan kecemasan Sang Raja dalam sepuluh
kondisi untuk si penerima: “Yang Mulia, akan tiba dalam upacara pengorbanan
ini, mereka yang melakukan pembunuhan dan mereka yang menghindari pembunuhan.
Kepada mereka yang melakukan pembunuhan, biarkanlah mereka; tetapi kepada
mereka yang menghindari pembunuhan akan mendapatkan pengorbanan yang berhasil
dan akan bergembira dalam pengorbanan ini, dan hati mereka akan tenang. Akan
tiba dalam upacara pengorbanan ini, mereka yang mengambil apa yang tidak
diberikan dan mereka yang menghindari …, mereka yang menikmati hubungan seksual
yang salah dan mereka yang menghindari …, mereka yang mengucapkan kebohongan …,
mengucapkan kata-kata fitnah, kasar dan kata yang tidak berguna …, mereka yang
serakah dan yang tidak, mereka yang menyimpan rasa benci dan yang tidak, mereka
yang berpandangan salah dan yang tidak. Kepada mereka yang berpandangan salah,
maka biarkanlah mereka; tetapi kepada mereka yang berpandangan benar akan
mendapatkan pengorbanan yang berhasil dan akan bergembira dalam pengorbanan
ini, dan hati mereka akan tenang.” Demikianlah sang Brahmana melenyapkan
keraguan Raja dalam sepuluh kondisi.’
‘Demikianlah
sang Brahmana menginstruksikan Raja yang menyelenggarakan upacara pengorbanan
besar dengan enam belas alasan, mendesaknya, menginspirasinya, dan
menggembirakan hatinya. “Orang-orang akan berkata: ‘Raja Mahàvijita sedang
menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, tetapi ia tidak mengundang para
Khattiya-nya …, para penasihatnya, para Brahmana yang paling berpengaruh, dan
para perumah tangga kaya ….’ Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang
sebenarnya, karena Raja telah mengundang mereka. Dengan demikian, Raja akan
mengetahui bahwa ia akan mendapatkan upacara pengorbanan yang berhasil dan
bergembira karenanya, dan hatinya menjadi tenang. Atau seseorang akan berkata:
‘Raja Mahàvijita sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, tetapi ia
tidak terlahir mulia dari kedua pihak .…’ Tetapi kata-kata tersebut tidak
sesuai dengan yang sebenarnya …. Atau seseorang akan berkata: ‘Sang Brahmana
Kerajaan tidak terlahir mulia .…’ Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan
yang sebenarnya.” Demikianlah sang Brahmana menginstruksikan Sang Raja dalam
enam belas alasan ….’
‘Dalam
upacara pengorbanan ini, Brahmana, tidak ada kerbau yang disembelih, tidak ada
kambing atau domba, tidak ada ayam dan babi, tidak juga berbagai makhluk hidup
yang dibunuh, juga tidak ada pohon yang ditebang sebagai tiang pengorbanan,
juga tidak ada rumput yang dipotong sebagai rumput pengorbanan, dan mereka yang
disebut budak atau pelayan atau pekerja tidak bekerja karena takut akan pukulan
atau ancaman, mereka tidak menangis atau bersedih. Tetapi mereka yang ingin
melakukan sesuatu akan melakukannya, dan mereka yang tidak ingin melakukan
tidak melakukannya; mereka melakukan apa yang mereka inginkan; dan tidak
melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Pengorbanan itu diselenggarakan
dengan ghee, minyak, mentega, dadih, madu, dan sirup.’
‘Kemudian,
Brahmana, para Khattiya …, para menteri dan penasihat, para Brahmana
berpengaruh, para perumah tangga dari desa dan kota, setelah menerima cukup
penghasilan, mendatangi Raja Mahàvijita dan berkata: “Kami membawa cukup banyak
harta kekayaan, Baginda, terimalah.” “Tetapi, Tuan-tuan, aku telah mengumpulkan
cukup banyak kekayaan. Apa pun yang tersisa boleh kalian ambil.”’
‘Atas
penolakan raja itu, mereka pergi ke satu sisi dan berdiskusi: “Tidaklah pantas
bagi kita untuk membawa pulang harta ini ke rumah kita. Raja sedang
menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Marilah kita mengikuti
teladannya.”’
‘Kemudian
para Khattiya meletakkan persembahan mereka di sebelah timur dari ceruk
pengorbanan, para penasihat meletakkan di sebelah selatan, para Brahmana di
sebelah barat dan para perumah tangga kaya di sebelah utara. Dalam pengorbanan
ini, tidak ada kerbau yang disembelih, … juga tidak ada makhluk hidup apa pun
yang dibunuh … mereka yang ingin melakukan sesuatu akan melakukannya, dan
mereka yang tidak ingin melakukan tidak melakukannya .... Pengorbanan itu
diselenggarakan dengan ghee, minyak, mentega, dadih, madu, dan sirup. Demikianlah
ada empat kelompok penerima, dan Raja Mahàvijita memiliki delapan hal, dan
Brahmana Kerajaan memiliki empat hal dalam tiga syarat. Ini, Brahmana, disebut
pengorbanan besar yang berhasil dalam enam belas tingkat dan tiga syarat.’
Mendengar
kata-kata ini, para Brahmana berteriak keras dan berisik: ‘Sungguh suatu
pengorbanan yang megah! Sungguh suatu cara yang megah dalam melakukan
pengorbanan!’ tetapi Kåñadanta tetap duduk diam. Dan para Brahmana menanyakan
kepadanya mengapa ia tidak bersorak mendengar kata-kata indah dari Petapa
Gotama. Ia menjawab: ‘Bukannya aku tidak gembira mendengarnya. Kepalaku akan
pecah menjadi tujuh keping jika aku tidak gembira mendengarnya. Tetapi aku
heran bahwa Petapa Gotama tidak mengatakan: “Aku mendengar bahwa”, atau “Ini
pasti seperti ini”, tetapi Beliau mengatakan: “Kejadiannya seperti ini atau
seperti itu pada waktu itu.” Dan karena itu, aku merasa bahwa Petapa Gotama
pada waktu itu adalah mungkin Raja Mahàvijita, yang menyelenggarakan
pengorbanan, atau si Brahmana Kerajaan yang memimpin upacara pengorbanan itu untuknya.
Apakah Yang Mulia Gotama mengakui bahwa Beliau menyelenggarakan, atau memimpin
upacara pengorbanan besar itu, dan sebagai akibatnya, setelah kematiannya,
setelah hancurnya jasmani, Beliau terlahir di alam yang baik, alam surgawi?’
‘Aku mengakuinya, Brahmana. Aku adalah Brahmana kerajaan yang memimpin upacara
pengorbanan.’
‘Dan,
Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan yang lain yang lebih sederhana, yang
lebih mudah, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada tiga tingkat
pengorbanan dengan enam belas syarat tersebut?’ ‘Ada, Brahmana.’
‘Apakah
itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Di mana pun pemberian rutin dari suatu keluarga yang
diberikan kepada para petapa yang berbudi, ini merupakan pengorbanan yang lebih
berbuah dan lebih bermanfaat daripada itu.’
‘Mengapa, Yang Mulia Gotama, dan karena alasan
apakah itu lebih baik?’
‘Brahmana,
Tidak ada Arahat atau mereka yang telah mencapai Jalan Arahat akan menerima
pengorbanan ini. Mengapa? Karena melihat penganiayaan dan pembunuhan, maka
mereka tidak menerima. Tetapi mereka akan menerima pengorbanan berupa pemberian
rutin dari suatu keluarga yang diberikan kepada para petapa yang berbudi,
karena tidak ada penganiayaan dan pembunuhan. Itulah sebabnya, jenis
pengorbanan ini lebih berbuah dan lebih bermanfaat.’
‘Tetapi,
Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada yang
sebelumnya itu?’ ‘Ada, Brahmana.’
‘Apakah
itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja yang menyediakan tempat
tinggal bagi Sangha yang datang dari empat penjuru, itu merupakan pengorbanan
yang lebih bermanfaat.’
‘Tetapi,
Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada tiga
ini?’ ‘Ada, Brahmana.’
‘Apakah
itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja dengan hati yang tulus
berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, itu merupakan pengorbanan yang
lebih bermanfaat daripada [146] tiga yang sebelumnya.’
‘Tetapi,
Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada empat
ini?’ ‘Ada, Brahmana.’
‘Apakah
itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja dengan hati yang tulus
melaksanakan sila – menghindari membunuh makhluk hidup, menghindari mengambil
apa yang tidak diberikan, hubungan seksual yang salah, kebohongan, dan meminum
minuman keras dan obat-obatan yang mengakibatkan lemahnya kesadaran - itu
merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat daripada empat yang sebelumnya.’
‘Tetapi,
Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada lima
ini?’ ‘Ada, Brahmana.’
‘Apakah
itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, seorang Tathàgata telah muncul di dunia
ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki
kebijaksanaan dan perilaku yang Sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan,
Pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada
bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau,
setelah mencapainya dengan pengetahuan-Nya sendiri, menyatakan kepada dunia
bersama para dewa, màra dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau
membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir,
dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni
sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan
moralitas, dan seterusnya. Demikianlah seorang bhikkhu sempurna dalam
moralitas. Ia mencapai empat jhàna. Itu, Brahmana, adalah suatu pengorbanan …
lebih bermanfaat. Ia mencapai berbagai pandangan terang. Ia mengetahui: “Tidak
ada lagi yang lebih jauh di dunia ini.” Itu, Brahmana, adalah suatu pengorbanan
yang lebih sederhana, lebih mudah, lebih berbuah, dan lebih bermanfaat dari
semua lainnya. Dan lebih dari ini, tidak ada lagi pengorbanan yang lebih mulia
dan lebih sempurna.’
‘Sungguh
indah, Yang Mulia Gotama, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang
menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat,
atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat
melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan
Dhamma dalam berbagai cara. Semoga Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai siswa
awam sejak hari ini hingga akhir hidupku! Dan, Yang Mulia Gotama, aku
membebaskan tujuh ratus sapi, tujuh ratus kerbau, tujuh ratus anak sapi, tujuh
ratus kambing jantan, dan tujuh ratus domba. Aku memberikan kehidupan kepada
mereka, memberi mereka makanan berupa rumput hijau dan air sejuk untuk diminum,
dan biarlah mereka bermain di angin yang sejuk.’
Kemudian
Sang Bhagavà membabarkan ceramah bertingkat kepada Kåñadanta, tentang
kedermawanan, tentang moralitas, dan tentang alam surga, menunjukkan bahaya,
penurunan dan kekotoran dari kenikmatan-indria, dan manfaat dari meninggalkan
keduniawian. Dan ketika Sang Bhagavà mengetahui bahwa batin Kåñadanta telah
siap, lunak, bebas dari rintangan, gembira dan tenang, maka ia membabarkan
ceramah Dhamma secara singkat: tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya,
dan sang jalan. Dan bagaikan sehelai kain bersih yang noda-nodanya telah
dihilangkan dapat diwarnai dengan sempurna, demikian pula Brahmana Kåñadanta,
selagi ia duduk di sana, muncul Mata-Dhamma yang murni dan tanpa noda, dan ia
mengetahui: ‘Segala sesuatu memiliki sebab dan pasti lenyap.’
Kemudian
Kåñadanta, setelah melihat, mencapai, mengalami, dan menembus Dhamma, setelah
melampaui keragu-raguan, melampaui ketidakpastian, setelah mencapai keyakinan
sempurna dalam Ajaran Sang Guru tanpa bergantung pada yang lainnya, berkata:
‘Sudilah Yang Mulia Gotama dan para bhikkhu menerima makanan dariku besok!’
Sang
Bhagavà menerimanya dengan berdiam diri. Kemudian Kåñadanta, mengetahui penerimaan
Beliau, bangkit, memberi hormat kepada Sang Bhagavà, berjalan dengan sisi
kanannya menghadap Sang Bhagavà dan pergi. Pagi harinya, ia mempersiapkan
makanan keras dan lunak di tempat pengorbanan, dan ketika persiapan selesai, ia
mengumumkan: ‘Yang Mulia Gotama, sudah waktunya, makanan telah siap.’
Dan
Sang Bhagavà, setelah bangun pagi, pergi dengan membawa jubah dan mangkuk-Nya
dan disertai oleh para bhikkhu menuju tempat pengorbanan Kåñadanta, dan duduk
di tempat yang telah disediakan. Dan Kåñadanta melayani Sang Buddha dan para
bhikkhu dengan makanan-makanan terbaik dengan tangannya sendiri hingga mereka
puas. Dan ketika Sang Bhagavà telah selesai makan dan menarik tangan-Nya dari
mangkuk, Kåñadanta mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi.
Kemudian
Sang Bhagavà, setelah memberikan instruksi kepada Kåñadanta dalam suatu ceramah
Dhamma, menginspirasinya, memicu semangatnya, dan menggembirakannya, bangkit dari
duduk-Nya dan pergi.
semoga dhamma ini bermanfaat bagi semuanya
sabbe satta bhavantu sukhitatta
saddhu saddhu saddhu!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.