DĀNA MENURUT AGAMA BUDDHA
A. Deskripsikan Dāna
Bagi seorang puthujjana (orang biasa), dāna adalah sebuah karma baik yang akan membawa buah (phala) baik bagi dirinya di kemudian hari.
Bagi seorang ariya (orang suci yang telah mempunyai kesadaran lokuttara) atau seorang puthujjana yang telah mengerti bahwa tidak ada perbuatan (karma) apa pun yang bisa membebaskan orang dari hukum karma-phala maka dāna
tidak berarti apa-apa, melainkan hanya sekadar dorongan sesaat untuk
berbagi dan membantu orang yang membutuhkannya, tanpa mengharapkan
kembalian apa-apa untuk dirinya di masa depan. (Hupudio, 2005)
“Dāna merupakan perbutan
memberi dan langkah awal yang penting di dalam praktek buddhis. Berdana
memiliki nilai yang penting dalam agama Buddha untuk pemurnian mental”
(Boddhi, 2005:23). Wijaya-mukti, (2003:469) “mengungkapkan berdana
adalah perbuatan melepas sesuatu yang dimiliki dengan tulus ikhlas demi
suatu tujuan yang baik”.
dāna merupakan titik mula
pada jalan menuju Pembebasan. Bila berkotbah kepada orang baru, Sang
Buddha memulai kotbah bertahap Beliau dengan penjelasan terperinci
mengenai keluhuran berdana (dānakatha Vin. 1, 15, 18). Dari 3 dasar untuk melakukan tindakan-tindakan berjasa (puññaki-nyavatthu),
berdana merupakan unsur pertama. Dua lainnya adalah sila/moralitas dan
pengembangan mental (A. iv, 241). Berdana juga merupakan yang pertama
dari 10 paramita yang disempurnakan oleh seorang Buddha. Oleh karenanya, di dalam perjuangan menuju pembebasan sebagai Arahat atau Buddha, pada mulanya orang harus mempraktekkan dāna.
B. Manfat Berdana
Berdana merupakan perbuatan yang paling mudah dilakukan
bagi mereka yang telah mengrti akan manfat berdana. Berdana merupakan
perbuatan yang dapat mengikis keserakahan (lobha), keserakahan
yang menguasai diri dapat mengakibatkan manusia lupa terhadap orang
lain. Manusia yang diliputi keserakahan hanya memiliki pikiran untuk
kepentingan pribadi, Buddha memberikan pemahaman kepada pada umatnya
untuk mengatasi noda keserakahan dengan praktek dāna (Dh.223). Berdana membantu mengikis sifat egoisme. Berdana merupakan untuk menyembuhkan penyakit egoisme dan keserakahan. “Atasilah noda keserakahan dan praktekkan dāna” (S.i.18)
Memang sulit melatih kebajikan berdana sesuai dengan
intensitas keserakahan dan keegoisan seseorang (Silva 2005:28,dalam
Bodhi). Sang Buddha menjelaskan betapa sulitnya memberikan dāna
bagi mereka yang kurang menggerti akan manfaat berdana, ”Sang buddha
mengibaratkaan berdana bagaikan pertempuran” (S. I,20) Seseorang yang
memiliki sedkit pengetahuan dan kekuatan spiritual ia sangat sukar untuk
berbuat baik. ”....sulitnya bagi orang yang kekurangan kekuatan
spritual untuk menyerhkan benda yang sudah lama bersamanya” (M. I, 449).
Manfat berdana dinyatakan sebagai berikut: (1) memberi dāna
akan di senangi dan dikasihi oleh orang banyak (mengikat persahabatan);
(2) orang-orang yang baik mengikutinya; (3) namanya harum; (4) dalam
lingkungan apapun penuh kepercayaan diri dan tidak akan mengaalami
kesulitan; (5) sesudah meninggal dunia kelak terlahir di alam surga.
Empat hal yang pertama adalah kenyataan yang bisa kita temukan dalam
kehidupan sehari-hari. Sebagaimana komentar Jinderl siha, tanpa menaruh
keyakinan kepada biddha pun keempat hal itu akan di alami oleh orang
yang banyak memberi. tetapi tentang lahir di alam surga, itulah yang
memerlukan keyakinannya kepada ajaran buddha (A. III,38)
Berdana dengan keyakinan menghasilkan tercapainya kekayaan dan keelokan ketika buah pemberian itu muncul. Dengan memberikan dāna
disertai pemilihan yang tepat seseorang tidak hanya memperoleh
kekayaan yang besar tetapi juga terpenuhinya kebutuhan pada waktunya.
Memberikan dāna bersama keinginan murni untuk membantu makhluk
lain yang membutuhkan, akan memperoleh kekayaan dan kecenderungan untuk
menikmati kesenangan-kesenangan indera yang terbaik. Pemberian dāna
tanpa menyakiti diri sendiri dan makhluk lain, orang memperoleh
keamanan dari bahaya seperti api, banjir, pencuri, raja dan
pewaris-pewaris yang tidak disukai (A.iii.172).
Dāna yang diberikan kepada
para petapa dan brahmana yang mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan
akan memberikan hasil luar biasa, seperti halnya benih yang ditanam di
ladang yang subur, disiapkan dengan baik dan diairi dengan baik akan
menghasilkan panen yang berlimpah (A.iv.238). Dāna yang diberikan tanpa pengharapan apa pun dapat membawa seseorang lahir dialam brahma (A.iv.62).
C. Kualitas Pendāna
Seorang pendana adalah orang yang memiliki keyakinan, keyakinan tarhadap Buddha, Dhamma dan Sangha.
Juga memiliki keyakinan terhadap ajaran hukum karma dan kehidupan
setelah mati. Dia percaya dengan penyempurnaan moral dan spritual
manusia. Dia bukan seorang pendana yang biasa (dāyako) saja. Dia adalah seorang pendana yang agung (dānapati). Seorang pendana juga dapat di gambarkan dengan seorang pemilik rumah yang terbuka bagi siapa yang memerlukan.
Seorang pendana yang mulia adalah orang yang berbahagia sebelum, selama, dan sesudah berdana (A. iii, 336). Pemberian dāna yang dilakukan dengan kehendak (cetana), yang penuh kesedaran (pubba), saat (munca), dan setelah (aparapara) akan menambah nilai pemberian tersebut. Buddha menjelaskan bahwa memberi dāna
akan menghasilkan buah kebajikan yang besar bilamana ditujukan kepada
seseorang baik tingkah lakunya, bukan kepada individu yang buruk
lakunya. ”Seorang raja yang menggaji dan memberi hadiah kepada
prajurit-prajurit yang baik saja, yang membawa kemenangan dalam suatu
pertempuran, sebesar apapun ia memberi atau menjanjikan hadiah
kemenangan itu tidak akan diperolehnya dengan prajurit yang lemah“ (S.i.98)
D. Yang Didānakan
Apa pun yang berguna, praktis dapat diberikan sebagai dāna. Niddesa (Nd. 2,523)
mendaftar 14 butir yang cocok untuk diberikan sebagai sumbangan, yaitu
jubah, persembahan makanan, tempat berdiam, obat-obatan dan kebutuhan
lain bagi yang sakit, makanan, minuman, kain, kendaraan, bunga-bungaan,
parfum, minyak, tempat tidur, rumah dan lampu.
Dāna yang dapat di berikan bisa berupa materi atau non materi. Dāna non materi bisa berupa ajaran atau Dhammadāna, “dāna Ajaran mulia melebihi semua dāna lain” (Dh. 354)
Dāna yang diberikan dari penghasilan seseorang yang kecil dianggap amat berharga (appasma dakkhina dinna sahasssena samam mita, S.i,18; dajjappasmim pi yacito, Dh. 224).
Mereka yang membabarkan ajaran-ajaran beliau para Bhikkhu yang mengulang ajaran dari tipitaka, para guru meditasi sering membagikan kebenaran ini, dan dengan demikian mempraktekan jenis dāna
tertinggi. Bila tidak memenuhi syarat untuk mengajarkan dhamma, kita
dapat berdana dhamma dengan cara lain. Kita dapat mendanakan buku – buku
dhamma atau membiayai terjemahan atau mencetak naskah baru yang
membabarkan naskah Sang Buddha. Kita dapat membahas dhamma secara tidak
formal dan mendorong orang lain untuk menjalani sila atau meditasi.
Memberikan uang atau tenaga di pusat meditasi atau membantu menopang
guru meditasi dapat juga dianggap dāna Dhamma, karena tujuan dari pusat meditasi dan guru itu adalah penyampaian ajaran – ajaran Sang Buddha.
Jenis pemberian yang paling umum adalah benda materi.
Objek materi tidak perlu memiliki nilai uang yang besar untuk bisa
menghasilkan hasil yang besar. Pemberian kepada sangha bisa berupa
makanan, jubah, obat – obatan atau vihara, yang bisa beranekara ragam.
Batasnya ditentukan oleh peraturan – peraturan Vinaya yang diberikan
Sang Buddha ketika dan bila dibutuhkan, untuk menjaga kemurnian dan
kekuatan Bhikkhu Sangha. Umat awam yang memahami peraturan peraturan
bhikkhu ini dapat memperoleh jasa kebajikan yang besar dengan memberikan
benda-benda yang sesuai pada waktu yang sesuai pada Sangha bhikkhu dan
bhikkhuni.
Dāna materi yang bersifat religius termasuk sumbangan membangun vihara atau candi baru. Penerima dāna seperti itu adalah masyarakat umum, siapa pun yang datang ke vihara atau memuja Sang Buddha di hadapan patung Buddha. Dāna
duniawi kepada masyarakat termasuk sumbangan ke berbagai organisasi
sosial. Jika orang tidak hanya berdana untuk proyek–proyek semacam itu
tetapi juga memberikan tenaga fisik, dāna semacam ini sangat berjasa.
B. Penerima Dāna
Pemberian dāna yang pantas adalah bagi mereka yang membutuhkan diantaranya pertapa (Samana), brahmana, kaum miskin (kapana), musafir (addikha), serta pengemis (yacaka) (D.i.137; ii.345; iii.76). Pertapa dan brahmana
adalah orang yang tidak berkerja untuk mencari uang melainkan
memberikan bimbingan spiritual kepada umat perumah tangga. Buddha
menjelaskan bahwa memberikan dāna kepada para anggota sańgha yang telah menghilangkan lima rintangan (nivarana) serta mengembangkan kebiasaan-kebiasaan bermoral, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan, serta pengetahuan (S.i.98)
Dāna yang dapat diberikan kepada samana akan bermanfaat bagi penerima dāna
diantaranya jubah, persembahan makanan, tempat berdiam, obat-obatan dan
kebutuhan lain bagi yang sakit, kain, kendaraan, tempat tidur.
Menjalankan kehidupan perumah tangga yang benar hidup dengan sederhana,
menopang keluarganya sesuai sarana yang dimilikinya, tetap menganggap
berdana penting walaupun sumbernya terbatas, kedermawannya berharga
lebih dari seribu pengorbanan (S.i.19-20). ”Dāna uang diberikan dari kekayaan yang diperoleh dengan benar akan dipuji oleh sang Buddha” (A.iii.35; It.66; A.iii.45-46).
Perumah tangga yang melakukan hal tersebut sebagai orang
beruntung di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sang
Buddha sangat menghargai Magga yang mengatakan bahwa dia mencari nafkah
dengan cara yang benar dan kemudian secara dermawan memberikan kepada
yang membutuhkan (Sn.488).
Di dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha
menjelaskan dalam istilah upacara korban 3 jenis api yang harus
diperlakukan dengan hati-hati dan dengan hormat. Tiga jenis itu adalah “ahuneyyaggi, gahapataggi, dakkhineyyaggi. Sang Buddha menjelaskan bahwa ahuneyyaggi berarti ayah dan ibu, yang harus dihormati dan dirawat. Gahapataggi berarti istri dan anak-anaknya, karyawan dan mereka yang tergantung padanya. Dakkhineyyaggi
mewakili orang-orang religius yang telah mencapai tingkat Arahat atau
telah masuk ke dalam arus pelatihan untuk melenyapkan noda-noda mental”
(A.iv.44). Ketiganya ini harus dirawat dan dipelihara bagaikan menjaga
api korban. Menurut Mahamangala Sutta, “memberikan keramahtamahan pada
sanak saudara merupakan salah satu dari perbuatan besar yang menjanjikan
keberhasilan, yang dapat dilakukan oleh orang awam” (Sn.262-63).
Di dalam Pemberian dāna pun tidak di batasi hanya untuk golongan sendiri atau golongan lain “Barang siapa menghalang-halangi orang lain memberikan dāna,
ia membuat rintangan dan menimbulkan kegagalan dalam tiga hal. Ya itu
(1) ia merintangi seseorang yang ingin berdan asehingga gagal memperoleh
pahala perbuatan baik. (2) ia menghalangi orang yang seharusnya
menerima sehiga gagal meperoleh dāna tersebut. (3) ia pun menjatuhkan dirinya sendiri.
Meski orang membuang sisa makan dari cucian peruk atau
bilasan mangkuk kedalam sebuah tambak, seraya mengharapkan barang kali
ada mahluk hidup di dalam dapat meperoleh makanan, aku nyatakan
perbuatan ini pun merupakan sumber dari jasa kebaikan, apalagi dāna yang di berikan kepada manusia. Namun adalah benar vaccha, akunyatakan, bahwa dāna
yang diberikan kepada mereka yang berbudi luhur menghasilkan buah yang
besar, tidak sedemikian halnya bila diberikan kepada orang yang tidak
bermoral.
C. Motivasi Berdana
Motivasi berdana dapat dirinci mejadi 8 motif sebagai berikut:
1. Asajja danam deti: orang yang memberi dengan kejengkelan, atau sebagai cara untuk menyinggung si penerima, atau dengan ide menghina dia
2. Bhaya danam deti: rasa takut juga dapat memotivasi seseorang untuk berdana.
3. Adasi me ti danam deti: orang berdana sebagai balasan terhadap kebaikan yang dilakukan kepada dirinya di masa lalu.
4. Dassati me ti danam deti: orang juga mungkin berdana dengan harapan dirinya mendapatkan bantuan serupa di masa mendatang.
5. Sadhu danan ti danam deti: orang berdana karena perbuatan berdana dianggap baik.
6. Aham pacami, ime ne pacanti, na arahami pacanto apacantanam adatun ti danam deti:
“Aku memasak, sedangkan mereka tidak. Tidaklah pantas bila aku yang
memasak tidak memberi mereka yang tidak memasak.” Beberapa orang berdana
dengan dorongan motif-motif altruisik semacam ini.
7. Imam me danam dadato kalyano kittisaddo abbuggachati ti danam deti: beberapa orang memberikan dana untuk mendapatkan reputasi yang baik.
8. Cittalankara-cittaparikkharattham danam deti: ada orang yang memberikan dāna untuk menghiasi dan memperindah pikiran. (A. iv, 236)
Favoritisme (chanda), niat jahat (dosa) dan kegelapan batin (moha) juga tercatat sebagai motif untuk berdana. Kadang-kadang dāna
diberikan untuk mempertahankan tradisi keluarga yang sudah bertahan
lama. Keinginan untuk terlahir kembali di surga setelah kematian
merupakan motif dominan lainnya. Bagi beberapa orang, berdana itu
menyenangkan sehingga mereka berdana dengan tujuan memperoleh keadaan
pikiran yang bahagia (A.iv.236).
Tetapi dinyatakan di dalam sutta-sutta (A.iv,62) bahwa dāna seharusnya diberikan tanpa pengharapan apapun (na sapekho danam deti). Demikian juga dāna
seharusnya tidak diberikan dengan kemelekatan terhadap si penerima.
Jika orang berdana dengan tujuan menimbun benda-benda untuk digunakan
besok, itu merupakan tindakan berdana yang rendah. Jika orang berdana
dengan harapan menikmati hasil setelah kematian, itu pun masih merupakan
tindakan berdana yang rendah. Motif satu-satunya yang absah untuk
berdana haruslah motif untuk memperindah pikiran, untuk membebaskan
pikiran dari buruknya keserakahan dan keegoisan.
D. Cara berdana
Berdana menurut agama Buddha yang menghasilkan manfaat
dan membawa kemajuan batin. Buddha memberikan penekanan tentang
cara-cara berdana. Sikap pemberi dalam tindakan berdana membuat
perbedaan yang besar, dalam hal niat baik pendana dan penerima dāna tanpa memperdulikan benda yang di danakan besar atau kecil, bagus atau jelek. Dāna diberikan dengan cara-cara sebagai berikut; (Sakkacam dānam deti): dāna
seharusnya diberikan dengan cara sedemikian sehingga yang diberi tidak
merasa dihina, dikecilkan atau tersinggung. Orang yang membutuhkan
biasanya meminta sesuatu dengan rasa malu, adalah tugas pendana untuk
tidak membuatnya merasa lebih malu dan menyebabkan bebannya yang sudah
berat menjadi semakin berat. (Cittikatva dānam deti): dāna
seharusnya diberikan dengan pertimbangan yang sesuai dengan rasa
hormat. Penerima harus dibuat merasa diterima, bila sesuatu diberikan
dengan kehangatan seperti itulah maka muncul keramahan yang saling
memperkaya, yang menyatukan pendana dan yang diberi. (Sahattha deti):
orang seharusnya memberi dengan tangannya sendiri. Keterlibatan pribadi
dalam berdana sangatlah bermanfaat. Meningkatkan hubungan antara
pemberi dan penerima, dan hal ini merupakan nilai sosial berdana.
Masyarakat dipersatukan oleh perhatian dan kasih sayang satu sama lain
saat kedermawanan dilakukan dengan rasa keterlibatan pribadi yang
hangat. (Na apavidham deti): orang seharusnya tidak memberikan dāna apa yang hanya cocok untuk dibuang. Orang harus berhati-hati untuk memberikan hanya apa yang berguna dan sesuai. (Na anagamanaditthiko deti):
orang seharusnya tidak memberikan dengan cara yang amat sembarangan
sehingga membuat si penerima merasa tidak ingin datang lagi (A.iii.127).
Saat memberikan dāna hendaknya memenuhi lema hal sebagai berikut agar dalam pemberian dāna memperoleh hasil yang sebaik-sebaiknya:
(1) ia memberi dengan hormat, (2) memberi dengan pikiran
yang terarah, (3) melakukannya dengan tangan sendiri, (4) apa yang di
danakan adalah barang-barang yang baik, (5) ia berdana dengan menyadari
benar manfaat berdana ini berarti seseorang memberi dengan keyakinan.
(A.III.172)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.