Minggu, 02 November 2014

Sejarah Kathina



Pada awalnya para bhikkhu melakukan penyiaran Dharma tidak mengenal waktu atau sepanjang tahun. Hal ini menimbulkan kritikan dari masyarakat  dengan mengatakan, "Mengapa para Bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Sang Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas dan musim hujan sehingga mereka menginjak tunas-tunas muda, rumput-rumputan, serta merusak kehidupan yang sangat penting dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati? (Vin. I, 137-138).
Mendengar keluhan masyarakat tersebut, beberapa orang Bhikkhu menghadap Sang Buddha dan melaporkan kejadian di atas. Sang Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal, dan bersabda :
"Para Bhikkhu, saya izinkan kamu untuk melaksanakan masa Vassa". Kemudian terpikir oleh para Bhikkhu, "Kapan masa Vassa dimulai ?".Mereka menyatakan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau kemudian menyatakan, "Saya izinkan kamu melaksanakan masa Vassa dimulai pada musim hujan ".Kemudian terpikir lagi oleh para Bhikkhu, "Berapa banyak periode untuk memulai masa Vassa ?".Mereka menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha, Beliau berkata,
"O para Bhikkhu, terdapat dua masa untuk memasuki masa Vassa, yang awal dan yang berikutnya. Yang awal dimulai sehari setelah purnama di bulan Asalhi (Kini dikenal dengan Hari Raya Asadha) dan yang berikutnya dimulai sebulan setelah purnama di bulan Asalhi. Itulah dua periode untuk memulai musim hujan".
Adanya perayaan hari Kathina mempunyai kisah tersendiri,
Pada waktu itu terdapat tiga puluh orang bhikkhu dari Pava. Dalam perjalananya mereka singgah di kota Saketa untuk menjalani vassa. Setelah sembilan puluh hari hujan tidak berhenti, mereka menembus hujan dengan tujuan menemui Buddha di kota Savatthi. Melihat para bhikkhu yang demikian basah dan kotor,
Sang Buddha berkata kepada para Bhikkhu,
"O para Bhikkhu, Saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa Vassa secara lengkap........".
Sejak saat itu sang Buddha mengijinkan agar mereka memperoleh jubah yang baru. Sejak itu menjadi lazim setiap anggota mendapatkan seperangkat jubah baru setahun sekali setelah menyelenggarakan vassa (Vin. I, 253-254).
Umat mempersembahkan empat kebutuhan pokok para bhikkhu berupa jubah, makanan, obat-obatan dan tempat tinggal. Namun, apabila tidak ada kain bahan jubah maupun jubah yang akan dipersembahkan maka dilaksanakan upacara “dana dimasa kathina”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.